Rakernas sebagai momentum konsolidasi dan penataan organisasi

  • 13 Juli 2018
  • Berita
  • 111 view
  • administrator


(Sleman, 13 Juli 2018). Beberapa hari yang lalu, tepatnya 10-11 Juli 2018 bertempat di hotel Grand Keisha, Yogyakarta, Pengurus Besar (PB) ABKIN menyelenggarakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas). Kegiatan Rakernas tersebut dihadiri oleh personalia PB ABKIN, perwakilan divisi-divisi dalam ABKIN, dan perwakilan Pengurus Daerah (PD) ABKIN seluruh Indonesia.

Kegiatan Rakernas tersebut dihadiri oleh Plt. Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbud, RI, Hamid Muhammad, M.Sc., Ph.D. Hamid mengungkapkan berbagai permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah terkait bimbingan dan konseling. Beberapa di antaranya, persoalan kualifikasi guru BK yang sudah tersertifikasi yang masih belum linier dengan bidang bimbingan dan konseling, guru BK yang masih terkesan hanya menangani persoalan kenakalan peserta didik, dan lain-lainnya. "Guru BK mesti dipahamkan untuk mulai mengembangkan layanan BK yang berorientasi pada pengembangan perilaku dan potensi anak," ungkap Hamid dalam arahannya kepada seluruh peserta Rakernas pada hari kedua, 11 Juli 2018. Dalam arahannya, Hamid Muhammad, menyatakan siap untuk membangun kerjasama dengan ABKIN di masa mendatang.

Agenda Rakernas ABKIN juga sebagai upaya pengurus mengkonsolidasikan kepengurusan ABKIN 2018-2022 dan penetapan komitmen bersama untuk memajukan profesi BK. Tidak hanya itu, Pengurus ABKIN periode ini turut menyusun program kerja dan agenda dalam ranah kontribusi kebijakan strategis terhadap sistem pendidikan nasional serta kegiatan praktis  yang berhubungan dengan pengembangan profesi BK.

Menurut Ketua Umum PB ABKIN, Dr. Muh Farozin MPd, selain konsolidasi organisasi, agenda Rakernas juga membahas persoalan penyelenggaraan pendidikan profesi BK yang mengalami distorsi sistemik yang menyebabkan munculnya ambiguitas dan dualisme model pendidikan. Itu berdampak pada ketidakjelasan peran dan ekspektasi kinerja profesi BK di sekolah.

"Problem ini juga semakin rumit ketika dihadapkan dengan regulasi kebijakan pendidikan yang terkesan belum memberi ruanh pengembangan keilmuan dan keprofesionalan BK yang berbeda dengan profesi guru pada umumnya. Oleh karena itu, rakernas ini bisa untuk mencari solusi dan memetakan masalah," tandasnya.


Dalam sessi berbeda, Prof. Sunaryo Kartadinata dalam amanatnya sebagai Dewan Pembina ABKIN memberikan penegasan juga terhadap kehadiran teknologi yang menyebabkan banyak perubahan di setiap lini kehidupan. Hal perlu ditanggapi serius oleh
profesi Bimbingan dan Konseling (BK). Dengan begitu, era disrupsi dapat dimaknai sebagai zaman kreasi tiada henti, bukan sebagai era
perubahan mengakibatkan kepunahan. (el-FarRa)