Kemendikbud RI, Bimbingan, Didikan dan Pengajaran Tidak Bisa Digantikan Teknologi

  • 14 Juli 2018
  • Berita
  • 392 view
  • administrator
Kemendikbud RI, Bimbingan, Didikan dan Pengajaran Tidak Bisa Digantikan Teknologi

Bernas.id- Plt Dirjen GTK Kemendikbud RI, Hamid Muhammad dalam Rakernas Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) menyebut permasalahan guru yang ada di antaranya adalah ketersediaan, kualitas dan kesejahteraan. Ketersediaan guru menjadi penting karena tiap tahun ada guru yang pensiun sekitar 5-60 ribu orang, padahal tidak ada rekrutmen sehingga kebutuhan tidak tercukupi, Hotel Grand Keisha, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu 11 Juli 2018.

Dikatakan Hamid, sejak tahun 2001, kewenangan guru menjadi hak daerah dan Kemendikbud yang hanya bisa mengusulkan hal formasi, jumlah dan mata pelajaran. Sedangkan, untuk kompetensinya Kemendikbud memberikan keprofesionalan berkelanjutan, di mana mengajar bisa digantikan oleh teknologi, tetapi bimbingan, didikan dan pengajaran tidak akan bisa.

Dipaparkan Hamid Muhammad, Kemendikbud sedang menggencarkan penguatan pendidikan karakter, peningkatan literasi, dan skill siswa. “Penguatan pendidikan karakter inilah yang perlu disiapkan oleh para guru bimbingan dan konseling,” katanya.

Hamid pun menyatakan perlu ada pola baru bimbingan konseling bagi anak milenial. Generasi milenial yang akrab dengan internet lebih memilih layanan konsultasi online dibandingkan layanan konsultasi tatap muka. Dirjen pun berharap agar anggota ABKIN bisa menyampaikan permasalahan yang ada ke media melalui tulisan agar diketahui khalayak, dengan demikian solusi yang diberikan didapatkan dari dua sisi, yaitu masyarakat dan kementerian.

Kegiatan Rakernas Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia ini diikuti oleh lebih dari seratus orang guru dan dosen dari seluruh Indonesia. Ketua PB ABKIN Muh Farozin mengatakan bahwa tujuan dari rakernas ini adalah untuk konsolidasi pengurus pusat dan daerah untuk mndukung pemerintah mengimplementasikan kebijakan bimbingan dan konseling. “Kami inventarisasi permasalahan pada prodi bimbingan dan konseling dengan hasil berupa rancangan program profesi BK,” kata Farozin.

Diketahui, Asosiasi Bimbingan Konseling Indonesia (ABKIN) adalah organisasi profesi di Indonesia yang beranggotakan guru bimbingan dan konseling atau konselor. Awalnya organisasi ini bernama Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI) yang didirikan pada tanggal 17 Desember 1975. Layanan bimbingan dan konseling adalah layanan yang diberikan oleh tenaga profesional bimbingan dan konseling kepada peserta didik dan anggota masyarakat lainnya agar mereka mampu memperkembangkan potensi yang dimiliki, mengenali dirinya sendiri, serta mengatasi permasalahannya sehingga dapat menentukan sendiri jalan hidupnya cara bertanggungjawab tanpa bergantung kepada orang lain. (Jat)

Sumber: http://www.bernas.id/amp/64121-kemendikbud-ri-bimbingan-didikan-dan-pengajaran-tidak-bisa-digantikan-teknologi.html